toto zurianto
Kebanyakan kita sudah biasa memiliki agenda untuk melakukan, melakukan, dan melakukan banyak hal. Hari-hari para eksekutif, manajer, ataupun pegawai biasa, selalu diwarnai oleh banyak daftar panjang untuk melakukan banyak hal. Kita sering takut, kalau-kalau kita terlambat melakukan sesuatu, bisa didahului oleh orang lain, terutama para kompetitor kita, baik perusahaan pesaing, maupun pegawai lain yang kita anggap sebagai pesaing perjalanan karir kita.
Bagi Jim Collins, berdasarkan penelitiannya terhadap perusahaan-perusahaan yang masuk kategori Great (Terhebat), mereka justru berlomba-lomba untuk menutup banyak hal yang dianggap tidak memiliki banyak manfaat kepada perusahaan. Benarlah apa yang dikatakan Jim Collins, untuk mendapatkan hasil yang tramendeous, pada dasarnya bisa kita lakukan melalui 2 cara. Pertama, yang paling tradisionil, kita berusaha melahirkan kreativitas dan inovasi, agar bisa menjual (termasuk menjual idea) sesuatu yang tidak dilahirkan perusahaan lain. Kalau ini terjadi, kita bisa menjadi leader di pasar dan akan sangat menguasai. Hasil akhirnya adalah, berupa peningkatan penjualan yang sangat cepat. Tentunya, laba perusahaan akan meningkat.
Cara Kedua, paling banyak digunakan perusahaan Kategori Terhebat adalah dengan berusaha menutup kebocoran operasional yang sebenarnya tidak dibutuhkan perusahaan. Banyak aktivitas perusahaan yang bertahun-tahun kita jalankan, tetapi kurang bermanfaat bagi perusahaan. Ini harus kita berantas, jangan sampai banyak orang melakukan sesuatu yang tidak berguna. Daftar seperti inilah yang banyak manfaatnya, dan kalau kita lakukan, perusahaan bisa semakin efisien dan efektif dalam mencapai tujuannya. Jangan ragu untuk menyusun Daftar Berhenti Melakukan ini (Stop Doing List).
Monday, August 24, 2009
Friday, July 3, 2009
Sportivitas; Perlu dibiasakan!
toto zurianto
Bagaimana bisa menerima "kekalahan" dengan ikhlas? Inilah bagian paling sulit dalam berinteraksi dengan manusia lain. Kita, pada awalnya, selalu menginginkan untuk sportif, selalu bisa menerima kemenangan (pasti dong!), dan semuanya juga selalu siap untuk menerima kekalahan. Dalam prakteknya, tidak banyak diantara kita yang mampu mengendalikan diri untuk menerima hasil, menerima dinyatakan kalah. Selalu muncul seribu satu alasan, biasanya kecewa karena proses penilaiannya, menurut kita tidak objektif. Penilainya berat sebelah, dan memihak. Kita kurang bisa menerima, bahwa para wasit itu, sebenarnya sudah berusaha semampu dan sekuat dayanya untuk mengambil keputusan. Hampir tidak ada wasit yang dari awal sudah mencoba untuk curang, sehingga selama permainan berlangsung, mencoba untuk memenangkan tim tertentu, dan membuat tim lain menjadi kalah. Memang pernah ada wasit yang tidak jujur. Persepakbolaan Itali, suatu negara maju yang sepak bolanya menjadi maha hebat di seluruh jagat, mengalami krisis kepercayaan, sehingga hasil akhir suatu pertandingan bisa diatur dengan melibatkan banyak pihak pada permainan itu. Tentu saja tidak hanya wasitnya yang amburadul, tetapi termasuk yang paling payah adalah para pemilik klub, pemaen, coach, bahkan katanya sampai kepada para mafia dan politisi!
Khusus wasit, memang menjadi sentral dan sering dijadikan kambing hitam. Kenapa? Karena dia adalah salah satu faktor yang bisa membuat suatu permaianan menjadi hidup dan menarik untuk disaksikan. Terutama karena kepintarannya dan ketegasannnya dalam membuat keputusan yang harus dilakukan segera dalam hitungan detik. Sayangnya, kitapun terlalu terbiasa dan sering membuat persepsi sendiri dengan menduga-duga bahwa seorang wasit telah memihak tim tertentu. Senin malam (28-Jun-09) baru-baru ini, ketika berlangsung babak final Copa Indonesia antara kesebelasan Sriwijaya FC Palembang melawan kesebelasan Persipura Jayapura, kita, penonton televisi, terkejut ketika pemain kesebelasan Persipura menolak melanjutkan pertandingan dan menganggap wasit tidak jujur, dan karena itu harus diganti, atau mereka tidak lagi menjalankan pertandingan. Bahkan situasinya nyaris bisa menimbulkan kericuhan antar supporters dan masyarakat penonton di Stadion Jaka Baring Palembang. Untunglah situasinya bisa diatasi, antara lain melibatkan Gubernur Propinsi Sumatera Selatan dan Ketua PSSI sendiri.
Hidup adalah perjalanan untuk bisa menerima, baik ketika kita menang, tetapi paling penting ketika kita harus kalah. Setiap saat, diantaranya, kita harus bisa menerima apa yang diputuskan wasit. Protes tentu saja diperlukan, itu adalah salah satu upaya untuk melakukan koreksi. Tetapi, sebagai pemain, kita harus menjalankan fungsi kita untuk tetap bermain, tanpa perlu terlalu berlebih-lebihan harus melakukan aksi diluar kewajaran. Permainan sering tidak harus berakhir dalam waktu 2 x 45 menit. Banyak situasi yang selalu harus kita perbaiki. Permainan yang belum selesai, harus kita kawal untuk suatu kemenangan akhir yang lebih abadi. Sportivitas bukan saja monopoli suatu permaianan dalam olah raga. Dalam pekerjaan atau dalam kehidupan sehari-hari, kitapun dituntut untuk bersikap sportif. Kalau kita dinilai belum waktunya, seharusnya kita mampu menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak sendiri. Selalu ada waktu untuk hari akan datang, kadang-kadang kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Bagaimana bisa menerima "kekalahan" dengan ikhlas? Inilah bagian paling sulit dalam berinteraksi dengan manusia lain. Kita, pada awalnya, selalu menginginkan untuk sportif, selalu bisa menerima kemenangan (pasti dong!), dan semuanya juga selalu siap untuk menerima kekalahan. Dalam prakteknya, tidak banyak diantara kita yang mampu mengendalikan diri untuk menerima hasil, menerima dinyatakan kalah. Selalu muncul seribu satu alasan, biasanya kecewa karena proses penilaiannya, menurut kita tidak objektif. Penilainya berat sebelah, dan memihak. Kita kurang bisa menerima, bahwa para wasit itu, sebenarnya sudah berusaha semampu dan sekuat dayanya untuk mengambil keputusan. Hampir tidak ada wasit yang dari awal sudah mencoba untuk curang, sehingga selama permainan berlangsung, mencoba untuk memenangkan tim tertentu, dan membuat tim lain menjadi kalah. Memang pernah ada wasit yang tidak jujur. Persepakbolaan Itali, suatu negara maju yang sepak bolanya menjadi maha hebat di seluruh jagat, mengalami krisis kepercayaan, sehingga hasil akhir suatu pertandingan bisa diatur dengan melibatkan banyak pihak pada permainan itu. Tentu saja tidak hanya wasitnya yang amburadul, tetapi termasuk yang paling payah adalah para pemilik klub, pemaen, coach, bahkan katanya sampai kepada para mafia dan politisi!
Khusus wasit, memang menjadi sentral dan sering dijadikan kambing hitam. Kenapa? Karena dia adalah salah satu faktor yang bisa membuat suatu permaianan menjadi hidup dan menarik untuk disaksikan. Terutama karena kepintarannya dan ketegasannnya dalam membuat keputusan yang harus dilakukan segera dalam hitungan detik. Sayangnya, kitapun terlalu terbiasa dan sering membuat persepsi sendiri dengan menduga-duga bahwa seorang wasit telah memihak tim tertentu. Senin malam (28-Jun-09) baru-baru ini, ketika berlangsung babak final Copa Indonesia antara kesebelasan Sriwijaya FC Palembang melawan kesebelasan Persipura Jayapura, kita, penonton televisi, terkejut ketika pemain kesebelasan Persipura menolak melanjutkan pertandingan dan menganggap wasit tidak jujur, dan karena itu harus diganti, atau mereka tidak lagi menjalankan pertandingan. Bahkan situasinya nyaris bisa menimbulkan kericuhan antar supporters dan masyarakat penonton di Stadion Jaka Baring Palembang. Untunglah situasinya bisa diatasi, antara lain melibatkan Gubernur Propinsi Sumatera Selatan dan Ketua PSSI sendiri.
Hidup adalah perjalanan untuk bisa menerima, baik ketika kita menang, tetapi paling penting ketika kita harus kalah. Setiap saat, diantaranya, kita harus bisa menerima apa yang diputuskan wasit. Protes tentu saja diperlukan, itu adalah salah satu upaya untuk melakukan koreksi. Tetapi, sebagai pemain, kita harus menjalankan fungsi kita untuk tetap bermain, tanpa perlu terlalu berlebih-lebihan harus melakukan aksi diluar kewajaran. Permainan sering tidak harus berakhir dalam waktu 2 x 45 menit. Banyak situasi yang selalu harus kita perbaiki. Permainan yang belum selesai, harus kita kawal untuk suatu kemenangan akhir yang lebih abadi. Sportivitas bukan saja monopoli suatu permaianan dalam olah raga. Dalam pekerjaan atau dalam kehidupan sehari-hari, kitapun dituntut untuk bersikap sportif. Kalau kita dinilai belum waktunya, seharusnya kita mampu menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak sendiri. Selalu ada waktu untuk hari akan datang, kadang-kadang kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Bekerja Fleksibel
toto zurianto
Banyak upaya yang telah dilakukan oleh para CEO dalam rangka meningkatkan kualitas pegawai. Disamping pola rekrutmen yang lebih mengarah kepada competency-based recruiting, juga menggunakan pendekatan pengelolaan SDM yang lebih banyak memperhatikan kepentingan para pegawai. Tidak heran, dalam 10 tahun terakhir, tuntutan pegawai untuk secara bersama-sama bisa menikmati kehidupannya sambil tetap fokus kepada pekerjaan, telah menjadi trend yang berkembang luar biasa. Tuntutan agar perusahaan menerapkan kebijakan Work-Life Balance (WLB) menggema dan agaknya tidak mungkin bisa dicegah oleh manajemen perusahaan. Pegawai bukan meminta keringanan atau harus bekerja kurang dari yang diinginkan. Pegawai meminta perusahaan untuk lebih fleksibel terhadap waktu kerja, sekaligus tidak menjalankan kebijakan kerja seperti rodi. Tetapi tetap, pegawai menjalankan pekerjaannya sebagaimana yang diperjanjikan.
Banyak sekali variasi Work Life Balance yang dijalankan akhir-akhir ini. Bahkan kebijakan waktu kerja yang fleksibel saja, tidak hanya menyangkut fleksibelitas waktu masuk dan keluar kerja. Tetapi bisa saja, bekerja pada waktu-waktu yang berbeda, tetapi dengan jumlah waktu yang sama. Beberapa bentuk fleksibilitas yang lain misalnya, model reward (sistem gaji) yang fleksibel, pola pensiun yang dapat dipilih, atau bentuk karir yang sangat tergantung kepada keinginan pegawai.
Kini semuanya menjadi pilihan kita, pilihan para Pimpinan Perusahaan, apakah menerapkan sistem SDM yang kaku dengan hanya mempunyai satu pilihan, atau mulai memberikan fleksibilitas kepada pegawai. Penting untuk diperhatikan, kebijakan fleksibilitas bukan dimaksudkan hanya untuk menyenangkan pegawai, tetapi bisa memberikan keuntungan (benefit) kepada organisasi. Banyak perusahaan yang kurang mampu mendapatkan pegawai yang berkualitas, karena pola pengelolaan SDM-nya yang kurang fleksibel. Bahkan, pegawai Top Performance yang ada, kadang-kadang menjadi disenggagement karena perusahaan tidak bisa memberikan fleksibilitas yang menjadi keperluan masing-masing individu. Fleksibilitas diperkirakan lebih menarik, karena bagi karyawan yang tidak memerlukannya, tetap bisa bekerja sesuai dengan keinginannya sendiri.
Banyak upaya yang telah dilakukan oleh para CEO dalam rangka meningkatkan kualitas pegawai. Disamping pola rekrutmen yang lebih mengarah kepada competency-based recruiting, juga menggunakan pendekatan pengelolaan SDM yang lebih banyak memperhatikan kepentingan para pegawai. Tidak heran, dalam 10 tahun terakhir, tuntutan pegawai untuk secara bersama-sama bisa menikmati kehidupannya sambil tetap fokus kepada pekerjaan, telah menjadi trend yang berkembang luar biasa. Tuntutan agar perusahaan menerapkan kebijakan Work-Life Balance (WLB) menggema dan agaknya tidak mungkin bisa dicegah oleh manajemen perusahaan. Pegawai bukan meminta keringanan atau harus bekerja kurang dari yang diinginkan. Pegawai meminta perusahaan untuk lebih fleksibel terhadap waktu kerja, sekaligus tidak menjalankan kebijakan kerja seperti rodi. Tetapi tetap, pegawai menjalankan pekerjaannya sebagaimana yang diperjanjikan.
Banyak sekali variasi Work Life Balance yang dijalankan akhir-akhir ini. Bahkan kebijakan waktu kerja yang fleksibel saja, tidak hanya menyangkut fleksibelitas waktu masuk dan keluar kerja. Tetapi bisa saja, bekerja pada waktu-waktu yang berbeda, tetapi dengan jumlah waktu yang sama. Beberapa bentuk fleksibilitas yang lain misalnya, model reward (sistem gaji) yang fleksibel, pola pensiun yang dapat dipilih, atau bentuk karir yang sangat tergantung kepada keinginan pegawai.
Kini semuanya menjadi pilihan kita, pilihan para Pimpinan Perusahaan, apakah menerapkan sistem SDM yang kaku dengan hanya mempunyai satu pilihan, atau mulai memberikan fleksibilitas kepada pegawai. Penting untuk diperhatikan, kebijakan fleksibilitas bukan dimaksudkan hanya untuk menyenangkan pegawai, tetapi bisa memberikan keuntungan (benefit) kepada organisasi. Banyak perusahaan yang kurang mampu mendapatkan pegawai yang berkualitas, karena pola pengelolaan SDM-nya yang kurang fleksibel. Bahkan, pegawai Top Performance yang ada, kadang-kadang menjadi disenggagement karena perusahaan tidak bisa memberikan fleksibilitas yang menjadi keperluan masing-masing individu. Fleksibilitas diperkirakan lebih menarik, karena bagi karyawan yang tidak memerlukannya, tetap bisa bekerja sesuai dengan keinginannya sendiri.
Semua Memerlukan Perubahan!
toto zurianto
Proses perubahan dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, agar suatu perusahaan atau suatu organisasi, bisa mewujudkan cita-cita atau tujuannya dengan lebih mudah. Perusahaan yang terdesak, karena berhadapan dengan persaingan yang tinggi, mau tidak mau perlu menemukan cara-cara yang lebih baik, bukan saja untuk survive, tetapi sekaligus bisa leading dan menguasai pasar. Bagi perusahaan yang tidak berorientasi profit, tujuannya tetap sama, agar mampu memberikan produk atau jasa terbaik yang bisa menjawab keperluan stakeholder-nya. Bagi pemimpin perusahaan, atau institusi negara sekalipun, secara pribadi-pribadi, selalu muncul tantangan untuk menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan/institusi yang dipimpinnya. Jangan sampai tidak ada kemajuan, jangan sampai apa yang dilakukannya lebih jelek dibandingkan yang dilakukan pendahulunya. Manajer-pun, bahkan bagi masing-masing pegawai, selalu harus memiliki orientasi untuk menghasilkan yang lebih baik dari siapapun yang ada. Tanpa sesuatu yang lebih baik, siapapun terpaksa harus menyingkir, atau disingkirkan dalam percaturan dan hubungan pada suatu organisasi.
Jadi, program perubahan pada dasarnya, harus menjadi cita-cita setiap orang. Tapi kenyataannya sering bertolak belakang. Banyak orang yang selalu cepat-cepat menolak untuk berubah atau melakukan perubahan. Kenapa? Sering karena kebanyakan kita kurang mampu menjelaskan aspek perubahan yang akan kita lakukan. Atau, sering pula kita terlalu khawatir, bahwa perubahan ini akan membuat semua orang akan menderita. Dan pada saat yang sama, seolah-olah, kalau kita tidak melakukan perubahan, kita tidak akan menderita dan kita tetap akan mampu mempertahankan kinerja atau prestasi kita.
Lalu kenapa masih sangat banyak orang yang tidak mau berubah, tidak ingin melakukan dan berpartisipasi dalam proses perubahan? Biasanya karena masih banyak orang yang merasa apa yang dilakukan dan dialami sekarang, belum akan menyulitkan yang bersangkutan di waktu yang akan datang. Tantangan yang akan dihadapinya masih belum terasa memberatkan.
Proses perubahan dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, agar suatu perusahaan atau suatu organisasi, bisa mewujudkan cita-cita atau tujuannya dengan lebih mudah. Perusahaan yang terdesak, karena berhadapan dengan persaingan yang tinggi, mau tidak mau perlu menemukan cara-cara yang lebih baik, bukan saja untuk survive, tetapi sekaligus bisa leading dan menguasai pasar. Bagi perusahaan yang tidak berorientasi profit, tujuannya tetap sama, agar mampu memberikan produk atau jasa terbaik yang bisa menjawab keperluan stakeholder-nya. Bagi pemimpin perusahaan, atau institusi negara sekalipun, secara pribadi-pribadi, selalu muncul tantangan untuk menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan/institusi yang dipimpinnya. Jangan sampai tidak ada kemajuan, jangan sampai apa yang dilakukannya lebih jelek dibandingkan yang dilakukan pendahulunya. Manajer-pun, bahkan bagi masing-masing pegawai, selalu harus memiliki orientasi untuk menghasilkan yang lebih baik dari siapapun yang ada. Tanpa sesuatu yang lebih baik, siapapun terpaksa harus menyingkir, atau disingkirkan dalam percaturan dan hubungan pada suatu organisasi.
Jadi, program perubahan pada dasarnya, harus menjadi cita-cita setiap orang. Tapi kenyataannya sering bertolak belakang. Banyak orang yang selalu cepat-cepat menolak untuk berubah atau melakukan perubahan. Kenapa? Sering karena kebanyakan kita kurang mampu menjelaskan aspek perubahan yang akan kita lakukan. Atau, sering pula kita terlalu khawatir, bahwa perubahan ini akan membuat semua orang akan menderita. Dan pada saat yang sama, seolah-olah, kalau kita tidak melakukan perubahan, kita tidak akan menderita dan kita tetap akan mampu mempertahankan kinerja atau prestasi kita.
Lalu kenapa masih sangat banyak orang yang tidak mau berubah, tidak ingin melakukan dan berpartisipasi dalam proses perubahan? Biasanya karena masih banyak orang yang merasa apa yang dilakukan dan dialami sekarang, belum akan menyulitkan yang bersangkutan di waktu yang akan datang. Tantangan yang akan dihadapinya masih belum terasa memberatkan.
How to Improve Your Organization Capabilities?
toto zurianto
Banyak hal yang perlu dilakukan agar suatu perusahaan atau organisasi tetap mencatatkan dirinya sebagai organisasi yang menjadi pemenang (the Winning), mampu bertahan menghadapi saingannya, selalu melahirkan produk/jasa yang inovatif dan berkualitas, serta tidak menghadapi kesulitan untuk mengatasi masalah-masalah internal organisasi. Hal paling penting pada dewasa ini (Ulrich and Smallwood, Leadership Brand, 2007, page 146-147)untuk terus diperhatikan adalah:
Pertama, selalu concern untuk mempertahankan Pegawai Berbakat dan Kontributif (Talent). Kebijakan organisasi harus mampu bersaing dan fleksibel untuk menarik calon dari luar, meningkatkan motivasinya, dan mempertahankan orang-orang yang kompeten dan memiliki komitmen tinggi. Jangan sampai yang menikmati kemudahan adalah orang-orang yang low performer yang sering membuat frustasi para High Star!
Kedua, memperjuangkan agar proses perubahan berlangsung CEPAT. Speed harus terjaga, perusahaan harus selalu cepat dan bagus dalam melakukan proses perubahan!
Ketiga, mempertahankan image customer dan pegawai yang tetap tinggi terhadap organisasi. Ini yang dikenal sebagai upaya untuk mempertahankan Share Mind-set secara terus menerus. Jangan sampai kesan pegawai atau pelanggan menjadi berbeda-beda dan naik turun!
Keempat, memegang tanggung jawab (accountability) dan selalu disiplin dalam mengawal upaya-upaya untuk mempertahankan kinerja organisasi agar tetap high performance. Keragu-raguan para leaders sering membawa ketidakpastian bagi pegawai untuk memegang isyarat yang akan dibawa organisasi. Proses perubahan yang tidak konsisten dan tidak disiplin, akan membuat banyak orang menjadi frustasi dan enggan mendukung proses perubahan yang dijalankan.
Kelima, membuka kesempatan untuk bekerja bersama pihak lain melalui collaboration yang saling menguntungkan sehingga diperoleh tingkat efisiensi yang tinggi. Pada dunia yang sangat meng-global dan terbuka dewasa ini serta melalui dukungan teknologi yang luar biasa perkembangannya, proses bekerja akan mencari bentuk yang paling efisien yang tidak lagi bisa dibatasi secara sempit oleh batasan internal organisasi. Bahkan upaya kerja sama untuk mendapatkan efisiensi paling tinggi, akan tidak bisa dicegah untuk melewati batas-batas negara secara lebih mudah (borderless). Karena itu, kesempatan untuk melakukan kolaborasi perlu terus kita upayakan terus menerus.
Kelima, membuka kesempatan untuk menghidupkan budaya belajar (learning), menciptakan suasana yang nyaman bagi karyawan untuk mencurahkan idenya secara terus menerus.
Tidak mudah untuk selalu mengupayakan agar organisasi atau perusahaan kita tetap berada di depan sebagai pemimpin dan pemenang diantara ekspektasi stakeholders dan para pesaing lain.
Banyak hal yang perlu dilakukan agar suatu perusahaan atau organisasi tetap mencatatkan dirinya sebagai organisasi yang menjadi pemenang (the Winning), mampu bertahan menghadapi saingannya, selalu melahirkan produk/jasa yang inovatif dan berkualitas, serta tidak menghadapi kesulitan untuk mengatasi masalah-masalah internal organisasi. Hal paling penting pada dewasa ini (Ulrich and Smallwood, Leadership Brand, 2007, page 146-147)untuk terus diperhatikan adalah:
Pertama, selalu concern untuk mempertahankan Pegawai Berbakat dan Kontributif (Talent). Kebijakan organisasi harus mampu bersaing dan fleksibel untuk menarik calon dari luar, meningkatkan motivasinya, dan mempertahankan orang-orang yang kompeten dan memiliki komitmen tinggi. Jangan sampai yang menikmati kemudahan adalah orang-orang yang low performer yang sering membuat frustasi para High Star!
Kedua, memperjuangkan agar proses perubahan berlangsung CEPAT. Speed harus terjaga, perusahaan harus selalu cepat dan bagus dalam melakukan proses perubahan!
Ketiga, mempertahankan image customer dan pegawai yang tetap tinggi terhadap organisasi. Ini yang dikenal sebagai upaya untuk mempertahankan Share Mind-set secara terus menerus. Jangan sampai kesan pegawai atau pelanggan menjadi berbeda-beda dan naik turun!
Keempat, memegang tanggung jawab (accountability) dan selalu disiplin dalam mengawal upaya-upaya untuk mempertahankan kinerja organisasi agar tetap high performance. Keragu-raguan para leaders sering membawa ketidakpastian bagi pegawai untuk memegang isyarat yang akan dibawa organisasi. Proses perubahan yang tidak konsisten dan tidak disiplin, akan membuat banyak orang menjadi frustasi dan enggan mendukung proses perubahan yang dijalankan.
Kelima, membuka kesempatan untuk bekerja bersama pihak lain melalui collaboration yang saling menguntungkan sehingga diperoleh tingkat efisiensi yang tinggi. Pada dunia yang sangat meng-global dan terbuka dewasa ini serta melalui dukungan teknologi yang luar biasa perkembangannya, proses bekerja akan mencari bentuk yang paling efisien yang tidak lagi bisa dibatasi secara sempit oleh batasan internal organisasi. Bahkan upaya kerja sama untuk mendapatkan efisiensi paling tinggi, akan tidak bisa dicegah untuk melewati batas-batas negara secara lebih mudah (borderless). Karena itu, kesempatan untuk melakukan kolaborasi perlu terus kita upayakan terus menerus.
Kelima, membuka kesempatan untuk menghidupkan budaya belajar (learning), menciptakan suasana yang nyaman bagi karyawan untuk mencurahkan idenya secara terus menerus.
Tidak mudah untuk selalu mengupayakan agar organisasi atau perusahaan kita tetap berada di depan sebagai pemimpin dan pemenang diantara ekspektasi stakeholders dan para pesaing lain.
Pemimpin Seperti Apa Anda?
toto zurianto
Anda ingin dikenal sebagai apa? Pemimpin seperti apa anda? Atribut seperti apa anda lebih suka dipanggil atau disebut oleh orang-orang yang ada di sekeliling anda. Banyak pilihan attributes yang bisa atau lebih sesuai dengan cita-cita dan keinginan anda, misalnya; seorang yang Accountable, atau Analytical, atau Attentive, atau Caring, atau Charismatic!
Biasanya, pilihan atribut tidaklah terlalu luas. Sangat besar pengaruh perilaku kita, atau nilai-nilai (values) kehidupan apa yang kita sukai dan sering kita jalankan (dipraktekkan). Cukup sulit bagi kita untuk tidak memilih perilaku yang berbeda dengan perilaku dan karakter kita. Beberapa pilihan atribut yang cukup dikenal, misalnya; Emotional, atau pemaaf (Forgiving), atau suka berkata apa adanya (Straightforward), atau selalu beriorientasi kepada hasil (result Oriented).
Bagaimanapun kita perlu memilih! Jangan banyak-banyak, carilah bentuk perilaku yang paling sesuai dengan pribadi anda, dan paling sesuai dengan keinginan anda. Itulah Attribute paling sesuai bagi anda! Itulah sesuatu yang membuat anda nyaman untuk dikenal pada lingkungan anda.
Di bawah ini ada beberapa pilihan atribut yang bisa anda pilih. Tidak ada yang tidak baik, semuanya positip, tergantung atribut mana yang paling sesuai dengan perilaku, atau kepribadian anda. Biasanya (Ulrich and Smallwood), paling banyak yang bisa sesuai dengan diri kita sekitar 6 atribut saja, mungkin lebih sedikit dari itu. Jadi, silahkan mencoba-coba, memilih mana yang paling sesuai dengan diri anda, atau atribut mana yang menurut banyak orang yang paling pas dengan diri anda.
Beberapa Pilihan Atribut
Accepting - Knowledgeables - Bright
Action Oriented - Lively - Humble
Adaptable - Logical - Innovative
Agile - Loving - Inspired
Calm - Loyal - Optimistic
Charismatic - Optimistic - Thorough
Collaborative - Organized - Benevolent
Compassionate - Outgoing
Decisive - Persistent
Dedicated - Pleasant
Easygoing - Polite
Efficient - Positive
Fast - Quality Oriented
Focus - Religious
Good Listener - Responsive
Happy - Savvy
Helpful - Self-confident
Independent - Trustworthy
Kind - Values driven
Anda ingin dikenal sebagai apa? Pemimpin seperti apa anda? Atribut seperti apa anda lebih suka dipanggil atau disebut oleh orang-orang yang ada di sekeliling anda. Banyak pilihan attributes yang bisa atau lebih sesuai dengan cita-cita dan keinginan anda, misalnya; seorang yang Accountable, atau Analytical, atau Attentive, atau Caring, atau Charismatic!
Biasanya, pilihan atribut tidaklah terlalu luas. Sangat besar pengaruh perilaku kita, atau nilai-nilai (values) kehidupan apa yang kita sukai dan sering kita jalankan (dipraktekkan). Cukup sulit bagi kita untuk tidak memilih perilaku yang berbeda dengan perilaku dan karakter kita. Beberapa pilihan atribut yang cukup dikenal, misalnya; Emotional, atau pemaaf (Forgiving), atau suka berkata apa adanya (Straightforward), atau selalu beriorientasi kepada hasil (result Oriented).
Bagaimanapun kita perlu memilih! Jangan banyak-banyak, carilah bentuk perilaku yang paling sesuai dengan pribadi anda, dan paling sesuai dengan keinginan anda. Itulah Attribute paling sesuai bagi anda! Itulah sesuatu yang membuat anda nyaman untuk dikenal pada lingkungan anda.
Di bawah ini ada beberapa pilihan atribut yang bisa anda pilih. Tidak ada yang tidak baik, semuanya positip, tergantung atribut mana yang paling sesuai dengan perilaku, atau kepribadian anda. Biasanya (Ulrich and Smallwood), paling banyak yang bisa sesuai dengan diri kita sekitar 6 atribut saja, mungkin lebih sedikit dari itu. Jadi, silahkan mencoba-coba, memilih mana yang paling sesuai dengan diri anda, atau atribut mana yang menurut banyak orang yang paling pas dengan diri anda.
Beberapa Pilihan Atribut
Accepting - Knowledgeables - Bright
Action Oriented - Lively - Humble
Adaptable - Logical - Innovative
Agile - Loving - Inspired
Calm - Loyal - Optimistic
Charismatic - Optimistic - Thorough
Collaborative - Organized - Benevolent
Compassionate - Outgoing
Decisive - Persistent
Dedicated - Pleasant
Easygoing - Polite
Efficient - Positive
Fast - Quality Oriented
Focus - Religious
Good Listener - Responsive
Happy - Savvy
Helpful - Self-confident
Independent - Trustworthy
Kind - Values driven
Sunday, May 24, 2009
Meningkatkan kemampuan Diri Sendiri
toto zurianto
Banyak pemimpin yang lupa untuk meng-up-grade diri sendiri. Kita tidak melakukan cukup investasi atas kemampuan sendiri. Kita tidak cukup kritis terhadap apa-apa yang ada pada diri kita. Sering kita lupa, seolah-olah apa yang kita miliki sudah siap untuk menghadapi segala situasi. Hati-hati, kalau anda juga bersikap complacent terhadap diri sendiri, bisa-bisa kemampuan kita menjadi tertinggal. Anda akan menjadi pemimpin ompong, punya kekuasaan tetapi tidak punya ilmu. Atasan anda akan mentertawakan anda, juga bawahan anda akan meng-gosip kemampuan anda. Karena itu, Dave Ulrich (2007, Leadership Brand) menyarankan kita untuk selalu melakukan penanaman pada diri sendiri (Invest in Yourself). Beberapa hal yang selalu harus diperhatikan;
Pertama, jujur dan terus terang melihat diri sendiri (be honest, do the mirror test). Jangan seperti orang yang kebetulan kegemukan tetapi enggan berjalan menaiki tangga, dan lebih suka naik "lift". Jangan pula selalu menghindari cermin, tidak percaya bahwa dia kurang proporsional. Keterusterangan dalam assessment diri sendiri membuat kita akan lebih tepat dalam memberikan solusi. Lakukan program pengembangan sesuai dengan keperluan!
Kedua, Mulailah dari yang kecil, tetapkan sasaran yang realistis (start small, set realistic expectations). Meningkatkan kemampuan diri memerlukan untuk berubah dan belajar. Lakukan perbaikan meskipun kecil. Jangan selalu mengharapkan yang besar karena sering tidak kesampaian. Sering, meskipun hanya kecil, selama kita konsisten, hasil akhirnya akan lebih baik. Keberhasilan mewujudkan hal-hal yang kecil, biasanya akan meningkatkan rasa percaya diri untuk konsisten mengupayakan hasil yang lebih besar.
Ketiga, Letakan diri anda pada paradigma yang baru (put yourself in the path of something new). Sering upaya memperbaiki diri, diawali oleh pergerakan keluar dari zona kenyamanan (comfort zone). Menempatkan diri menjadi "kita yang berbeda" dari sebelumnya akan membantu mempercepat proses perubahan menjadi lebih baik. Kalau kita masih seperti biasa-biasa, tantangan ke depan sering tidak terlihat sehingga kurang cukup alasan untuk melakukan perubahan.
Keempat, Terus Belajar dan Fokus-lah ke masa depan (keep learning and focus on the future). Melakukan sesuatu yang baru, harus diiringi oleh sikap pembelajaran yang tinggi. Jadikan kegagalan sebagai upaya untuk menjadi lebih baik. Inilah yang disebut pembelajaran, suatu sikap melakukan refleksi apa yang baik dan apa yang kurang pas. penting untuk selalu fokus ke masa depan, jangan terlalu mudah menyerah dan akhirnya kembali lagi ke masa silam! always asking yourself, what works and what doesn't work!
Kelima, lega menerima kekurangan meskipun kecewa berat. Ini hal cukup penting untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan kita, bagaimana kita bisa menjadikan kekecewaan atau kegagalan sebagai sesuatu yang mampu meng-inspire untuk menjadi lebih baik. Kegagalan, jelas bisa mengganggu reputasi, luka, dan perasaan malu. Tapi jangan lupa, kalau kita mampu mengendalikannya, dia akan menjadi sumber kekuatan yang akan dahsyat manfaatnya.
Keenam (finally), ambil manfaat dari setiap kesempatan yang tidak terpikirkan (take advantage of unplanned opportunities). Tidak semua proses perubahan, adalah sesuatu yang sebelumnya anda rencanakan. Kadang-kadang, sesuatu yang terjadi begitu saja di tengah jalan, baik akibat pengaruh orang lain ataupun sebagai akibat dari hal-hal yang sudah dilakukan, melahirkan kesempatan baru yang luar biasa untuk diterapkan. Ini adalah unplanned opportunities, lakukan proses integrasi pada rencana besar yang sudah ada, bergerak cepat untuk sesuatu yang lebih baru.
Banyak pemimpin yang lupa untuk meng-up-grade diri sendiri. Kita tidak melakukan cukup investasi atas kemampuan sendiri. Kita tidak cukup kritis terhadap apa-apa yang ada pada diri kita. Sering kita lupa, seolah-olah apa yang kita miliki sudah siap untuk menghadapi segala situasi. Hati-hati, kalau anda juga bersikap complacent terhadap diri sendiri, bisa-bisa kemampuan kita menjadi tertinggal. Anda akan menjadi pemimpin ompong, punya kekuasaan tetapi tidak punya ilmu. Atasan anda akan mentertawakan anda, juga bawahan anda akan meng-gosip kemampuan anda. Karena itu, Dave Ulrich (2007, Leadership Brand) menyarankan kita untuk selalu melakukan penanaman pada diri sendiri (Invest in Yourself). Beberapa hal yang selalu harus diperhatikan;
Pertama, jujur dan terus terang melihat diri sendiri (be honest, do the mirror test). Jangan seperti orang yang kebetulan kegemukan tetapi enggan berjalan menaiki tangga, dan lebih suka naik "lift". Jangan pula selalu menghindari cermin, tidak percaya bahwa dia kurang proporsional. Keterusterangan dalam assessment diri sendiri membuat kita akan lebih tepat dalam memberikan solusi. Lakukan program pengembangan sesuai dengan keperluan!
Kedua, Mulailah dari yang kecil, tetapkan sasaran yang realistis (start small, set realistic expectations). Meningkatkan kemampuan diri memerlukan untuk berubah dan belajar. Lakukan perbaikan meskipun kecil. Jangan selalu mengharapkan yang besar karena sering tidak kesampaian. Sering, meskipun hanya kecil, selama kita konsisten, hasil akhirnya akan lebih baik. Keberhasilan mewujudkan hal-hal yang kecil, biasanya akan meningkatkan rasa percaya diri untuk konsisten mengupayakan hasil yang lebih besar.
Ketiga, Letakan diri anda pada paradigma yang baru (put yourself in the path of something new). Sering upaya memperbaiki diri, diawali oleh pergerakan keluar dari zona kenyamanan (comfort zone). Menempatkan diri menjadi "kita yang berbeda" dari sebelumnya akan membantu mempercepat proses perubahan menjadi lebih baik. Kalau kita masih seperti biasa-biasa, tantangan ke depan sering tidak terlihat sehingga kurang cukup alasan untuk melakukan perubahan.
Keempat, Terus Belajar dan Fokus-lah ke masa depan (keep learning and focus on the future). Melakukan sesuatu yang baru, harus diiringi oleh sikap pembelajaran yang tinggi. Jadikan kegagalan sebagai upaya untuk menjadi lebih baik. Inilah yang disebut pembelajaran, suatu sikap melakukan refleksi apa yang baik dan apa yang kurang pas. penting untuk selalu fokus ke masa depan, jangan terlalu mudah menyerah dan akhirnya kembali lagi ke masa silam! always asking yourself, what works and what doesn't work!
Kelima, lega menerima kekurangan meskipun kecewa berat. Ini hal cukup penting untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan kita, bagaimana kita bisa menjadikan kekecewaan atau kegagalan sebagai sesuatu yang mampu meng-inspire untuk menjadi lebih baik. Kegagalan, jelas bisa mengganggu reputasi, luka, dan perasaan malu. Tapi jangan lupa, kalau kita mampu mengendalikannya, dia akan menjadi sumber kekuatan yang akan dahsyat manfaatnya.
Keenam (finally), ambil manfaat dari setiap kesempatan yang tidak terpikirkan (take advantage of unplanned opportunities). Tidak semua proses perubahan, adalah sesuatu yang sebelumnya anda rencanakan. Kadang-kadang, sesuatu yang terjadi begitu saja di tengah jalan, baik akibat pengaruh orang lain ataupun sebagai akibat dari hal-hal yang sudah dilakukan, melahirkan kesempatan baru yang luar biasa untuk diterapkan. Ini adalah unplanned opportunities, lakukan proses integrasi pada rencana besar yang sudah ada, bergerak cepat untuk sesuatu yang lebih baru.
Thursday, May 21, 2009
Pemilu Indonesia 2009
Sabtu lalu, hasil resmi Pemilihan Umum (legislatif) Indonesia telah diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari 38 partai yang ikut Pemilu, hanya 9 partai yang lolos parliamentary threshold 2,5 persen dan berhak menempatkan wakilnya di DPR (Pusat), yaitu; (Partai) Demokrat, Golkar, PDI-P, PKS, PAN, PPP, Gerindra, PKB, dan Hanura.
Atas hasil tersebut, jumlah perolehan kursi di DPR tertinggi diduduki Demokrat (148 kursi), disusul Golkar (108), dan PDI-P (93). Selanjutnya adalah PKS (59), PAN (42), PPP (39), Gerindra (30), PKB (26), dan Hanura (15 kursi).
Sementara itu, pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014, semuanya sudah dijawab oleh partai-partai pemenang, antara lain melahirkan pasangan SBY-Boediono, Kalla-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Penetapan Capres dan Cawapres ini sekaligus mengakhiri perdebatan panjang dan percobaan koalisi yang melelahkan yang sedikit banyak telah membuat berbagai kesimpangsiuran atas peta politik bangsa yang berlangsung tidak mudah, bahkan cenderung melahirkan pertentangan keras di kalangan elit politik.
Selanjutnya, tentu saja, kita akan mendapatkan tontonan yang bisa sangat tidak terduga, atas upaya masing-masing calon untuk memenangkan Pemilu Presiden dalam 2 bulan mendatang. Meskipun Partai Demokrat telah memenangkan Pemilu Legislatif dengan cukup baik, suara yang kececer dan kosong, tidak kecil bahkan lebih besar dari perolehan suara partai pemenang Pemilu. Ada 49,6 juta pemilih yang terdaftar, tidak menggunakan hak pilihnya dengan berbagai sebab. Pemilih yang tidak memilih (tidak punya dokumen pemilih atau menjadi golongan putih, atau akhirnya tidak memilih) sebanyak 49,6 juta itu mencapai sekitar 30 persen dari Daftar Pemilih Tetap yang sudah disusun, ini menjadi suara potensial yang membuat Pemilu Presiden/Wakil Presiden diharapkan menjadi cukup menarik. Tidak mudah bagi siapapun, termasuk pasangan SBY-Boediono untuk memenangkan Pemilu sekali pukul (mendapatkan suara di atas 50%), karena itu, disamping kerja keras, maka Pemilu Presiden tahap II, tetap perlu kita siapkan mana tau harus dilakukan.
Tentu saja kita menyambut baik upaya KPU dan Pemerintah untuk memperbaiki sistem dan tata cara pemilihan dalam rangka meningkatkan partisipasi rakyat untuk menggunakan hak-nya pada Pemilu Presiden/Wapres yang akan datang. Kitapun berharap, para wakil rakyat dan pengurus partai, akhirnya konsisten mempertahankan hasil Pemilu Legislatif 2009 dengan tidak berusaha untuk membuat partai baru bagi partai-partai yang tidak lolos parliamentary threshold 2,5 persen. Rakyat sudah bosan apabila para politisi pada akhirnya ramai-ramai membentuk partai baru untuk ikut kembali pada Pemilu 2014. Cukuplah 9 partai, dan kemudian menjadi lebih sedikit lagi dalam 10 tahun yang akan datang. Jangan sampai, atas nama demokrasi, anda mencuri uang negara dengan mendirikan partai baru agar bisa berpartisipasi pada Pemilu yang akan datang.
Atas hasil tersebut, jumlah perolehan kursi di DPR tertinggi diduduki Demokrat (148 kursi), disusul Golkar (108), dan PDI-P (93). Selanjutnya adalah PKS (59), PAN (42), PPP (39), Gerindra (30), PKB (26), dan Hanura (15 kursi).
Sementara itu, pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014, semuanya sudah dijawab oleh partai-partai pemenang, antara lain melahirkan pasangan SBY-Boediono, Kalla-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Penetapan Capres dan Cawapres ini sekaligus mengakhiri perdebatan panjang dan percobaan koalisi yang melelahkan yang sedikit banyak telah membuat berbagai kesimpangsiuran atas peta politik bangsa yang berlangsung tidak mudah, bahkan cenderung melahirkan pertentangan keras di kalangan elit politik.
Selanjutnya, tentu saja, kita akan mendapatkan tontonan yang bisa sangat tidak terduga, atas upaya masing-masing calon untuk memenangkan Pemilu Presiden dalam 2 bulan mendatang. Meskipun Partai Demokrat telah memenangkan Pemilu Legislatif dengan cukup baik, suara yang kececer dan kosong, tidak kecil bahkan lebih besar dari perolehan suara partai pemenang Pemilu. Ada 49,6 juta pemilih yang terdaftar, tidak menggunakan hak pilihnya dengan berbagai sebab. Pemilih yang tidak memilih (tidak punya dokumen pemilih atau menjadi golongan putih, atau akhirnya tidak memilih) sebanyak 49,6 juta itu mencapai sekitar 30 persen dari Daftar Pemilih Tetap yang sudah disusun, ini menjadi suara potensial yang membuat Pemilu Presiden/Wakil Presiden diharapkan menjadi cukup menarik. Tidak mudah bagi siapapun, termasuk pasangan SBY-Boediono untuk memenangkan Pemilu sekali pukul (mendapatkan suara di atas 50%), karena itu, disamping kerja keras, maka Pemilu Presiden tahap II, tetap perlu kita siapkan mana tau harus dilakukan.
Tentu saja kita menyambut baik upaya KPU dan Pemerintah untuk memperbaiki sistem dan tata cara pemilihan dalam rangka meningkatkan partisipasi rakyat untuk menggunakan hak-nya pada Pemilu Presiden/Wapres yang akan datang. Kitapun berharap, para wakil rakyat dan pengurus partai, akhirnya konsisten mempertahankan hasil Pemilu Legislatif 2009 dengan tidak berusaha untuk membuat partai baru bagi partai-partai yang tidak lolos parliamentary threshold 2,5 persen. Rakyat sudah bosan apabila para politisi pada akhirnya ramai-ramai membentuk partai baru untuk ikut kembali pada Pemilu 2014. Cukuplah 9 partai, dan kemudian menjadi lebih sedikit lagi dalam 10 tahun yang akan datang. Jangan sampai, atas nama demokrasi, anda mencuri uang negara dengan mendirikan partai baru agar bisa berpartisipasi pada Pemilu yang akan datang.
Muncul
Kamis, 21 Mei 2009 Jm 05.25, Blog ini muncul, sebagai sarana komunikasi untuk mencurahkan pemikiran dalam rangka membangun Indonesia lebih jaya!
Subscribe to:
Comments (Atom)